Kehidupan Kala Pandemi: Bagaimana Hidupku Berubah Sejak COVID-19

Sudah hampir 2 bulan sejak Presiden Joko Widodo menyatakan Indonesia juga terkena wabah COVID-19, menyusul negara-negara tetangga yang lebih dulu naik jumlahnya. Walaupun sejujurnya aku yakin, virus ini sudah masuk ke Indonesia sejak awal tahun 2020—terlebih dengan adanya berbagai data simulasi yang dijalankan oleh banyak peneliti dari berbagai negara.

Aku tinggal di Bali, dimana arus keluar-masuk turis domestik dan asing sangatlah tinggi. Dan sewaktu ada berita tentang meninggalnya seorang turis asing di Bali sekitar seminggu setelah presiden mengumumkan penderita COVID-19 kasus 1-3, aku sudah nggak kaget.

Tapi, ya sudahlah.

Bicara soal bagaimana menyikapi pandemi ini, akhir bulan Maret kemarin aku dan Asep pindah rumah. Tadinya kami tinggal di pinggiran Denpasar Timur. Dan setelah 2 tahun, kami merasa daerah tempat tinggal kami itu terlalu jauh dari mana-mana. Kami akhirnya pindah ke daerah yang lebih dekat dengan bandara dan pusat kota; tempat yang sering kami kunjungi. Untunglah, kami tinggal di Bali, yang belum banyak kasus positif.

Dengan demikian, pemerintah daerah tidak memberlakukan PSBB ataupun lockdown. Perlu diketahui, tanpa dua hal itupun Bali sudah jadi sangat sepi, kok. Auto-sepi, karena turis domestik dan mancanegara tidak bisa liburan. 😅

Tentunya, akibat pandemi ini ada beberapa hal mendasar yang mulai berubah ataupun akan berubah menjadi lebih jauh lagi dalam hidup banyak orang, termasuk kami berdua dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan dan bisnis.

Perubahan dalam kehidupan sehari-hari kami

Belanja bahan makanan dan masak di rumah

Sebelum pandemi

Soal berbelanja kebutuhan harian dan makan, misalnya. Aku sebelumnya jarang sekali masak. Sebagian besar waktu habis untuk bekerja. Jika sudah merasa terlalu lelah karena overwork, kugantikan dengan membaca buku atau menonton streaming movies. Untuk urusan makan, kami berdua hampir selalu makan di luar. Jarang sekali kami menggunakan layanan beli dan antar makanan daring.

Kenapa? Simpel, penghematan. Kami tahu makan di luar itu cukup boros kalau dibandingkan dengan masak sendiri. Tapi, hitung lagi dengan berapa banyak waktu yang harus dihabiskan untuk berbelanja, menyiapkan bahan masakan, memasaknya, dan kemudian mencuci peralatan yang sudah digunakan untuk memasak. Dan memang kalo dihitung, sama saja biaya yang keluar untuk layanan antar makanan dan bahan bakar untuk pergi ke warung.

Tapi bukan soal itu. Disini, kami berusaha berhemat sampah. Lho, koq bisa? Iya, kalau pakai layanan antar makanan begitu, kan tetap saja menghasilkan limbah pembungkus makanan. Kalau makan di warung, limbahnya hanya sabun pencuci piring, atau bungkus krupuk 😝

Sejak pandemi

Aku mulai memasak lagi, teman-teman! 🤣 Sebenarnya lebih karena kami berdua membatasi diri untuk keluar rumah dan bertemu dengan banyak orang. Selain itu, penghematan uang mesti dilakukan juga, karena kami tidak tahu kondisi ini akan berjalan sampai kapan. Aku kembali berbelanja di pasar tradisional, karena bisa bangun pagi lagi. Untuk bahan-bahan makanan yang khusus, aku beli di supermarket impor yang juga dekat dengan rumah kami.

Setelah berbelanja, semua bahan makanan ditata sesuai tempatnya masing-masing; ada yang masuk ke kulkas, ada juga yang disimpan di pantry ataupun countertop. Setelah memasak, langsung cuci piring. Begitu juga setelah makan. Intinya, tidak membiarkan dapurku kotor dalam jangka waktu lama, karena berpotensi menyimpan bakteri, virus, jamur dan penyakit-penyakit lainnya.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *