Kategori
Kewirausahaan

Berbicara Soal Inovasi, Mengapa Startup Teknologi di Indonesia Hanya Itu-itu Saja?

Inovasi membutuhkan keberanian dalam mengambil resiko yang lebih besar. Apakah kamu punya keberanian untuk melakukannya?

You only live once, but if you play your cards right, once is enough.

Joe E. Lewis

Sejak 2015 saya sering mengikuti berbagai acara bertajuk pitching ide startup, dimana saya diminta untuk menjadi pengajar (mentor) maupun ketika saya hanya mengikuti suami yang diminta untuk menjadi mentor. Baik itu ketika kami masih tinggal di Jakarta, maupun saat ini saat kami tinggal di Bali.

Dari yang saya perhatikan selama beberapa tahun terakhir ini, ide yang dikeluarkan peserta sebetulnya beragam. Namun “berakhir” di produk yang sama, yaitu marketplace. Apakah karena marketplace dianggap dapat menuai hasil yang lebih besar ketimbang produk-produk teknologi lainnya? Ataukah karena demam unicorn yang isinya kebanyakan adalah menjadi “penengah” antara pembeli dan penjual?
Awalnya saya heran, sekaligus sedih. Dan makin kesini, makin banyak ide-ide yang begitu-begitu saja.

Pemberitaan di media startup pun isinya tak jauh-jauh dari “startup A mendapat kucuran dana sekian Milyar di seri X”, atau “VC X menyuntik dana sekian Trilyun untuk perusahaan B”. Lelah saya membacanya. Saya pun jadi penasaran, kenapa bisa jadi fenomena, ya? Saya berbicara dengan banyak rekan pengusaha dan akademisi. Sebagian besar pun setuju, memang nampaknya di Indonesia ini kekurangan ide-ide segar dan potensial untuk dijadikan bisnis. Dan bisnis-bisnis yang kerjanya top-up investment melulu ini nggak benar-benar bisa making money, cuma jualan potensi.

Atau mungkin sebenarnya karena banyak yang belum terbiasa berinovasi, jadi menganggapnya kalau kecil dan nggak dikucuri dana investor itu nggak bisa dianggap produk inovasi? 🤔 Hmmm…

Apa sih inovasi itu?

Coba ingat-ingat, jaman duduk di bangku SD dulu, kamu tipe murid yang seperti apa? Murid yang kalau guru bertanya kamu akan (1) Langsung angkat tangan dan memberikan jawaban, tidak peduli benar atau salah; (2) Diam saja karena takut menjawab salah? Yang manapun kamu waktu itu, kemungkinan terbesarnya adalah kamu yang saat ini pun masih seperti waktu SD dulu.

Kalau kamu adalah anak tipe nomor (1), kamu yang saat inipun adalah orang yang bersedia mencoba apapun yang ada di hadapanmu tanpa terlalu khawatir kalau ternyata kamu salah ataupun orang lain menolakmu. Kamu tahu pasti kemungkinan kamu benar atau salah itu 50:50. Hasrat untuk membuktikan kalau kamu benar mengalahkan rasa takutmu akan kesalahan. Tapi kalau kamu adalah anak tipe nomor (2), ketakutan untuk membuat kesalahan membuat kamu tidak mau mencoba apapun. Dan mungkin juga sampai saat ini kamu masih berfikir, “Ah, ngapain aku ngelakuin itu? Nanti juga akan ada orang yang ngelakuin.”

Dan kalau ngomongin inovasi, artinya sendiri kurang lebih adalah

Pemikiran, ide-ide, atau imajinasi baru yang berbentuk produk fisik ataupun metode. Ia juga sering dilihat sebagai penerapan solusi yang lebih baik dalam pemenuhan kebutuhan yang terus berkembang di masyarakat moderen.

Inovasi sendiri kadang maknanya tidak jelas, dan seringnya orang salah memahaminya. Jadi orang yang inovatif itu ‘kan sebenarnya adalah jadi orang yang tidak mengikuti status quo. Misalnya nih, kalau di tempat kerja kamu yang sekarang, mungkin saja kamu melakukan berbagai hal hanya karena disuruh, atau karena kolega kerjamu melakukan hal yang sama dengan orang-orang sebelum mereka. Tanpa sadar, dalam dirimu sudah terbiasa dengan pemikiran: yang sudah-sudah selalu begini, jadi ikuti saja.

Seringnya, kita melakukan hal-hal yang kita lakukan dengan berfikir “Ini yang paling mudah, ngapain ngelakuin yang susah?”, adalah karena kita terlalu fokus pada zona nyaman, pengetahuan, dan pengalaman kita sendiri. Atau karena cara demikian membuat kita lebih cepat menandai selesai satu tugas dari sekian banyak daftar tugas yang kita punya, dan melanjutkan ke tugas yang lain. Kita membiarkan kesempatan untuk menciptakan metode atau proses yang lebih baik, dan untuk menanyakan hal yang paling penting dalam melakukan sesuatu — apakah kita bisa melakukan hal itu dengan lebih efisien, lebih efektif, atau lebih terjangkau (dalam hal biaya) namun tetap dapat memberikan hasil yang terbaik?

Yang perlu kamu ketahui, menjadi orang yang inovatif itu bukan berarti harus membuat sesuatu yang keren dan menghabiskan biaya besar. Inovasi adalah ketika kamu bisa menentukan standar baru dalam melakukan atau menciptakan sesuatu. Standar baru tersebut bisa membuat orang bertanya-tanya pada diri sendiri, “Oh iya ya, kenapa aku ‘gak kepikiran untuk ngelakuin hal itu…”

Itu yang disebut dengan terbiasa berfikir linier.

Berfikir Linier vs Berfikir Sistematis

Sebagai produk sistem pendidikan Indonesia yang masih terpengaruh revolusi industri, dan tidak ada perubahan signifikan sejak jaman penjajahan, saya nggak kaget kalau sebagian besar dari kita masih mengikuti cara berfikir linier, dimana

Berfikir linier adalah disaat kamu mengikuti pendekatan langkah demi langkah yang berdasar pada pengalamanmu, atau dari yang pernah kamu baca dan pelajari; seringnya hanya berasal dari sudut pandangmu sendiri. Lurus, satu per satu dan tidak berfikir diluar kotak.

Dan sebaliknya, Inovasi melibatkan cara berfikir yang sistematis, yaitu proses memahami bagaimana hal-hal kecil dapat saling mempengaruhi satu sama lain dalam sebuah kesatuan.

Cara berfikir sistematis inilah yang membuat Jeff Bezos, pendiri Amazon, sukses dalam mengembangkan bisnisnya. Ide inovatif yang ia kembangkan adalah hasil cara berfikir sistematis yang efektif. Di akhir tahun 1994, ia melihat potensi Internet sebagai industri yang pertumbuhannya paling cepat di jagat raya. Ia akhirnya keluar dari pekerjaannya saat itu di Wall Street, dan di usia 31 tahun ia baru mulai membangun Amazon dengan lima orang pegawai yang bertempat di sebuah garasi. Dari gemerlapnya kota New York dimana ia bekerja di perusahaan hedge fund, ia pindah ke pinggiran kota Seattle. Menyewa sebuah rumah disana untuk ia tinggali, dan membangun Amazon dari garasi rumah tersebut. Hari ini, *net worth* Bezos sekitar $110 Milyar!
Bezos bisa saja membangun sebuah toko buku seperti orang-orang lainnya.

Tetapi cara berfikirnya sudah jauh melampaui “status quo”, dan bisnis yang ia bangun jadi mendunia. Apakah ia bisa sesukses dan sekaya itu kalau ia hanya melihat dari satu sudut pandang, dengan rasa takut akan gagal yang terus menghantui? Tentu tidak! Ia memperhatikan lingkungan sekitarnya dari berbagai sudut dan ia harus berani mengambil resiko—apapun itu.

Mengapa banyak orang / perusahaan yang jadi kurang inovatif walaupun sudah memanfaatkan teknologi?

Disini letak “kesalahan” banyak orang yang berfikir bahwa untuk berinovasi harus selalu membuat sesuatu yang baru dan fantastis. Bigger and better tech needed, they said. Ada begitu banyak buku, artikel, kelas, diskusi panel, workshop bahkan konferensi global untuk membekali orang-orang dan perusahaan dalam berinovasi. Belum lagi dengan perkembangan teknologi yang benar-benar luar biasa kecepatannya. Tapi walaupun dengan adanya keunggulan memiliki informasi seperti ini, banyak yang masih kesulitan untuk melakukannya.

Definisi teknis dari inovasi sudah jelas: “membuat sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.” Tapi walaupun sebagian besar perusahaan tahu bahwa inovasi adalah hal yang harus mereka kejar betul-betul, mereka tidak siap untuk melakukannya. Untuk kamu yang ada di posisi sebagai pegawai, kamu pasti sudah kenyang (atau bahkan mual? 😜) mendengar perusahaan tempatmu bekerja selalu menekankan semua pegawainya untuk jadi orang yang kreatif dan inovatif, kan?

Dan untuk kamu yang ada di posisi pemilik usaha (entrepreneur), pasti kamu mengharapkan pegawai-pegawaimu berinovasi dan menjadikan usahamu unggul, kan? Sebenarnya ini adalah hal yang bagus, tapi kenyataannya perubahan yang dapat terjadi di tatanan sosial masyarakat kita yang bisa diantisipasi dalam 20 tahun kedepan akan lebih besar daripada perubahan yang terjadi dalam 20 tahun kebelakang.

Dan ini akan membuat perusahaan-perusahaan jadi harus berinovasi lebih cepat lagi, karena adanya demand atau permintaan dari pasar (masyarakat).

Bagaimana kamu / perusahaanmu bisa menjadi lebih inovatif?

Mungkin kamu punya kemampuan atau hobi yang tidak digunakan dalam keseharian di tempat kerja, tapi sebetulnya bermanfaat, hanya saja kamu tidak tahu bagaimana membawanya ke level selanjutnya.

Pertama, kamu harus punya motivasi yang sangat besar untuk keluar dari cara berfikirmu yang biasanya. Dan selanjutnya, kamu hanya perlu mencari ide-ide inovatif yang tentunya tidak pernah kamu lakukan.

  • Pertimbangkan bahwa mungkin ada solusi yang lebih efektif dan efisien — jangan puas hanya dengan “status quo”.
  • Kalahkan dan buang jauh-jauh rasa takutmu. YOLO! (*You only live once*)
  • Selalu siap untuk mengambil resiko dan berbagi ide yang kamu miliki pada orang lain, siapa tahu mereka punya masukan bagus yang tidak pernah terlintas di otakmu, kan?
  • Dengarkan kritik dan saran konstruktif ketika kamu sudah berbagi ide yang kamu miliki.
  • Paksa dirimu untuk melihat keseluruhan situasi sekitarmu dari berbagai sudut pandang, jangan hanya sudut pandangmu saja.
  • Pelajari apa yang sedang nge-tren diluar sana; diluar departemen kerjamu, diluar perusahaanmu, perusahaan lain, berita-berita di berbagai media, dan tentunya pasar.
  • Selalu bersedia untuk mencoba lagi ketika hasil yang kamu dapat tidak sesuai dengan harapanmu.

Dan yang menurut saya paling penting adalah kamu mesti berani untuk menabrak norma-norma yang berlaku di masyarakat, mematahkan pola-pola yang sudah ada, dan bertaruh dengan membuang teknologi usang yang ketinggalan jaman atau bahkan bertaruh dengan aliran pemasukan yang biasanya sudah membuat cukup puas.

Intinya, kamu mesti masuk ke dalam destruksi kreatif, yang ditakuti oleh sebagian besar eksekutif perusahaan.Inovasi bisa terjadi karena, kadang ide-ide yang paling inovatif sekalipun sebenarnya sudah ada di depan wajahmu, tapi kamu cuma terlalu sibuk untuk memperhatikan hal-hal lain, atau terlalu takut untuk benar-benar mendorong batasan kemampuanmu. Kamu takut keluar dari zona nyamanmu, karena terbiasa berfikir linier.

Jadi, kenapa startup di Indonesia hanya itu-itu saja?

Ya, selama ada demand atau permintaan dari pasar, maka hanya produk `begitu-begitu saja` yang akan hadir. Be it P2P lending fintech, uber-for-everything, or marketplace-for-specific-sector. Lagipula, apa gunanya berinovasi yang kejauhan tapi tidak ada yang menggunakannya disini? Nanti akhirnya harus kabur ke luar negeri…#eh

No matter the ‘method’, in the end it is consciousness that innovates. We just go into the center of ourselves and ask for what we need.

Gregory Lent

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *